Asap Penyembuh di Yalimo: Magisnya Ritual Bakar Batu
Asap tebal mengepul di tengah perkampungan, membawa aroma dedaunan terbakar yang khas. Hari itu, rutinitasku menjelajah hutan harus tertunda. Bapa Yanes, seorang tokoh adat yang sangat kuhormati, terbaring sakit. Namun, warga percaya sakitnya bukan urusan medis belaka, melainkan akibat gangguan roh jahat yang mengusik harmoni kampung. Untuk mengusir energi gelap itu dan memohon kesembuhan, sebuah ritual sakral segera digelar: Bakar Batu.
Aku merasa sangat terhormat saat pemuda setempat menarik tanganku, mengajakku melebur dalam hiruk-pikuk prosesi komunal ini. Sejak pagi, para lelaki sudah sibuk menumpuk batu-batu kali di atas perapian kayu yang menyala hebat. Suhu panas menyengat wajah saat aku ikut membantu memindahkan batu-batu yang mulai memerah itu menggunakan tongkat kayu belah.
Di sisi lain, kelompok Mama-mama dengan lincah menyiapkan lubang dangkal yang dilapisi daun pisang dan alang-alang. Begitu batu panas ditata di dasar lubang, bahan makanan mulai dimasukkan berlapis-lapis. Keladi, ubi jalar, sayuran hijau, dan beberapa ekor ayam utuh ditumpuk rapi, lalu ditutup kembali dengan dedaunan tebal dan bebatuan panas di atasnya. "Oven" alam ini mengandalkan uap panas untuk mematangkan semuanya secara perlahan.
Sambil menunggu, atmosfer berubah hening. Tetua adat mulai melantunkan doa-doa dan mantra dalam bahasa lokal. Mereka memohon agar penyakit yang menggerogoti tubuh Bapa Yanes diangkat dan diterbangkan jauh bersama kepulan asap putih yang membumbung ke langit biru Yalimo. Momen ini sukses membuat bulu kudukku berdiri; ada energi spiritual yang begitu kuat dalam rapalan doa mereka.
Sekitar dua jam kemudian, tumpukan daun dibongkar. Uap panas yang membawa aroma manis ubi dan gurihnya ayam yang matang sempurna langsung memanjakan hidung. Kami duduk melingkar, makan bersama beralaskan daun pisang. Daging ayamnya luar biasa lembut, berpadu sempurna dengan sayuran yang meresap aroma asap bebatuan sungai.
Mengikuti prosesi ini menyadarkanku satu hal penting. Di pedalaman Papua, Bakar Batu jauh lebih dari sekadar pesta makan. Ia adalah medium rekonsiliasi, penyatuan energi positif, dan doa komunal. Melihat harapan yang kembali menyala di mata warga, aku yakin, obat paling mujarab di sini tidak selalu berupa pil, melainkan kehangatan persaudaraan yang tak pernah putus.

